6 Cara Jalani Kehamilan yang Sehat

0
720

Memiliki bayi yang sehat tentu menjadi impian setiap pasangan. Tidak ada, pasangan yang mengharapkan janinnya keguguran, atau terlahir dengan sejumlah masalah kesehatan, bahkan kematian. 

Namun, tahukah Anda bahwa meski ada faktor  X  yang tidak diketahui sebagai penyebab berbagai kejadian yang tidak diinginkan tersebut, terdapat pula sejumlah cara untuk meminimalkan kemungkinan-kemungkinan itu. Toh, pepatah pun menyebutkan, ‘’Lebih baik mencegah, daripada mengobati’’. Jadi, bila resikonya dapat ditekan, kenapa tidak diupayakan ya?

Nah, inilah beberapa cara yang dapat Anda usahakan:

  • Persiapkan kehamilan sejak awal. Alangkah baiknya jika sejak merencanakan kehamilan Anda, dan suami telah memeriksakan kesehatan. Supaya, jika ditemukan virus, atau kuman yang akan membahayakan kehamilan seperti toxoplasmosis, dapat diobati terlebih dulu. Bahkan lifeclinic.com menyarankan untuk melakukan persiapan kehamilan antara 6-12 bulan sebelum benar-benar hamil. Selama masa itu, Anda sudah bisa berkonsultasi dengan dokter kebidanan dan kandungan mengenai rencana kehamilan tersebut.
  • Berhenti merokok. Rokok memberikan kontribusi terhadap terjadinya tekanan darah tinggi. Ditinjau dari sudut mana pun kebiasaan menghisap rokok tidak akan berdampak baik pada Anda. Apalagi jika tengah hamil. Berhentilah merokok –sebaiknya sejak merencanakan kehamilan. Tentu Anda tidak ingin merokok untuk “berdua” bukan? Dalam lifeclinic.com disebutkan bahwa kebiasaan merokok dapat menimbulkan sejumlah resiko pada janin. Sebut saja, bayi berat lahir rendah, kematian pada bayi, berbagai kelainan pada bayi, dan sindrom kematian mendadak pada bayi (sudden infant death syndrome).
  • Hindari Alkohol, cobalah untuk istirahat yang cukup, dan memeriksakan kehamilan sedini mungkin, serta teratur. Ketiga hal tersebut, menurut Linda Nicholson, MS, MC, seorang pakar kesehatan sekaligus konselor genetik bersertifikat, dari Alfred I. duPont Hospital for Children, Wilmington, dapat menekan berbagai resiko yang tidak diinginkan selama kehamilan, termasuk keguguran, dan kelainan pada janin.
  • Penuhi kebutuhan Anda, dan si jabang bayi akan nutrisi. Menurut dr. Judi Januadi Endjun, SpOG, dokter spesialis obstetri & ginekologi dari Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta, status nutrisi yang baik sangat penting –bahkan sejak merencanakan kehamilan. ‘’Pola makan, dan status gizi ibu harus lebih diperhatikan. Dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan dan minuman yang dapat mendukung kebutuhan gizi ibu, ’’ paparnya. Diantara nutrisi yang harus dipenuhi adalah karbohidrat, protein, zat besi, kalsium, dan folat. Meski demikian, pada saat hamil semua nutrisi –yang sehat—sangat penting untuk dikonsumsi termasuk sayuran, dan buah-buahan.

Inilah manfaat yang dapat diperoleh jika nutrisi yang sehat –sebelum—dan     selama hamil dapat terpenuhi:

  1. Memperkecil resiko bayi prematur.
  2. Mengurangi resiko komplikasi.
  3. Mengurangi resiko berkurangnya cadangan gizi ibu.
  4. Mengurangi resiko sakit dan kematian pada ibu.
  5. Memperkecil resiko terhambatnya pertumbuhan janin.
  6. Memperkecil resiko cacat bayi, dan kematian bayi.
  7. Memperbesar keberhasilan menyusui.
  • Hindari konsumsi vitamin A, dan kafein secara berlebihan terutama saat awal kehamilan, dan selama kehamilan. ‘’Konsumsi vitamin A dengan dosis tinggi dapat mengakibatkan efek teratogenik. Intake vitamin A (retinol) dan bukan provitamin A (caroteniods) dapat menyebabkan cacat pada tengkorak, wajah, hati, ginjal, thymus dan susunan saraf pusat, ‘’papar dr. Judi.
  • Upayakan memiliki berat badan ideal, sebelum hamil. ‘’Penting bagi wanita yang sedang merencanakan kehamilan mempunyai berat badan yang ideal (BMI 20-25),’’ kata dokter Judi. Terlalu kurus (extreme thinnes), lanjutnya, atau terlalu gemuk (overweight) dilaporkan mempunyai hubungan dengan kesuburan. Inilah beberapa fakta yang berhubungan antara berat badan, dan kehamilan:

Wang (2000) melaporkan wanita obesitas dengan BMI > 35 mempunyai resiko     kemungkinan hamil 50% lebih rendah dari wanita dengan BMI yang normal

Frish (1987) melaporkan bahwa infertilitas juga terdapat pada wanita dengan     body fat yang rendah.

Rekomendasi penambahan berat badan selama kehamilan adalah berdasarkan     BMI sebelum kehamilan. Adapun. wanita dengan berat badan dibawah normal     (underweight) akan mempunyai resiko yang meningkat pada abortus, dan juga     resiko melahirkan BBLR (bayi berat lahir rendah). Sementara, wanita overweight     mempunyai resiko gestational diabetes, dan hipertensi.

Dengan perencanaan, serta perubahan gaya hidup –ke arah yang lebih sehat—akan menekan sejumlah hal yang tidak diinginkan kala hamil. Nah, selamat menjalani momen ajaib dalam hidup Anda : Kehamilan! PG

Kenaikan Berat Badan Ideal

Inilah tabel kenaikan berat badan yang disarankan selama kehamilan berdasarkan BMI sebelum hamil.

BMI (indeks massa tubuh)  


Kenaikan berat badan

 

Rendah (<18.5) 12.5 -18.0 kg
Normal (18.5–22.9) 11.5 – 16.0kg
Tinggi (23.0– 25.0) 7.0 – 11.5
Obes (>25.0) 6.0

Cara menghitung BMI : kg/m2

Nutrition Behavior, Do & Don”t!

Ingin memenuhi kebutuhan akan nutrisi saat hamil? Bila ya, inilah sejumlah tipsnya dari  dr. Judi Januadi, Endjun, SpOG, dokter spesialis obstetri & ginekologi dari RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta.

Do!

  • Persiapkan cadangan gizi sebelum kehamilan
  • Mengkonsumsi makanan bergizi lengkap dan  bervariasi termasuk nutrisi sumber protein, sayuran, serta  buah
  • Patuhi jadwal makan, dan  jangan lupa sarapan
  • Perbanyak konsumsi makanan segar serta yang banyak mengandung serat
  • Bila mual, makanlah dalam porsi sedikit tetapi sering
  • Mengkonsumsi buah-buahan sebagai camilan sehat
  • Banyak minum air/jus buah (sekitar 8 gelas/hari)

Don”t!

  • Terlalu banyak mengkonsumsi camilan yang hanya mengandung gula atau tinggi lemak
  • Mengkonsumsi daging, ikan, ayam, atau telur yang tidak dimasak dengan baik/matang
  • Menkonsumsi alkohol/merokok
  • Mengkonsumsi teh, kopi atau softdrink terlalu banyak