Masak Bersama Anak – Antara Kebahagiaan atau Kerepotan ?

0
732

Sejak anak-anak kecil aku selalu berusaha melibatkan mereka di dapur. Keberadaan rumah tanpa asisten menyebabkan dapur & ruang makan menjadi salah satu sentra utama kegiatan keluarga kami. Entah mereka hanya duduk sambil ngobrol menemaniku masak, membantu bebenah piring atau bahkan ikut membantu masak.

Aku dan mas Aar percaya bahwa banyak hal yang diserap & dipelajari anak dari keseharian mereka. Percakapan & obrolan yang terkesan sederhana sehari-hari menurutku punya andil besar dalam pertumbuhan mereka. Buat kami, proses belajar itu seperti menanam pohon. Tidak bisa langsung terlihat hasilnya, harus terus disiram, dipupuk dan disiangi sambil berdoa agar pohon tersebut tumbuh dengan baik.

Tulisan ini bukan tentang tips praktis masak bersama anak, karena tentang itu sudah beberapa kali ditulis misalnya dalam posting ini atau ini. Melalui posting ini aku hanya ingin curhat bagaimana rasa hatiku sendiri dalam proses berkegiatan memasak bersama anak-anak.

Seberapa repot sih melibatkan anak di dapur?

Jawabannya REPOT!! :D. Proses masak bisa jadi dua kali lebih lama dari seharusnya, dapur dua kali berantakan. Belum lagi kalau yang dimasak adalah kue (bukan makanan utama). Itu berarti tambahan waktu lebih lama di dapur buatku karena usai berkegiatan memasak bersama anak-anak, aku tetap harus masak makanan utama.

Sebelum Tata & Yudhis bisa lumayan mandiri di dapur, proses belajar mereka lebih banyak “tidak mandiri”nya. Hehe.. Harus diakui anak-anak itu kan tipis energinya, kadang keinginan mereka meluap di depan tapi daya tahan menyelesaikan satu proyek masakan itu mungkin baru terjadi setelah beberapa kali melakukan kegiatan memasak menu yang sama. Makanya jangan bosen kalau anak maunya masak itu lagi – itu lagi. Sebelum sampai pada kemandirian, proses masak bersama anak itu berarti tambahan ekstra pekerjaan untukku untuk menyelesaikan proyek masak mereka.

Semua itu akan terasa biasa-biasa saja kalau fisikku sedang sehat atau tidak sedang berada dalam tekanan deadline pekerjaan. Tapi kalau pas lagi drop atau sedang padat jadwal, maka proses masak bersama anak ini membutuhkan kesabaran ekstra. Apalagi (entah kenapa) anak-anak itu terasa lebih bersemangat untuk masuk dapur PAS aku lagi sibuk atau kurang sehat.

Kalau sudah begitu lalu bagaimana?

Yaa di sinilah tantangan utamanya. Menyiapkan kelapangan hati untuk masak bersama anak ketika jadwal padat itu tidak semudah teorinya. Kadang lagi di tengah-tengah masak, Duta datang dan dengan wajah berbinar-binar dia teriak, “can I help?”, “can I do it?”, “Aku aduk-aduk ya?”, “Aku bisa nih bu, aku aja ya?”.

“Can I help?” itu berarti Duta melihat tipe masakannya dan dia merasa bisa membantu. Tapi itu juga berarti waktu masak yang molor karena menunggu proses pekerjaan Duta yang pastinya lambaaaaaat sambil dia cerita-cerita. Kalau sudah begini biasanya tak ada jalan lain selain memupuk pikiran bahwa ini “berharga”, aku “harus bertahan”, daaaaaan…  banyak tarik napas panjang supaya sabar. Hahaha…

Biasanya proses mendamaikan hati itu tertolong oleh munculnya Tata-Yudhis atau bapak Aar di dapur. Tata/Yudhis sering datang lalu mau ikutan membantu. Dan kalau Tata/Yudhis yang membantu berarti benar-benar mengurangi beban.

Sesungguhnya, melihat kemampuan Tata/Yudhis yang sudah mandiri itulah yang menjadi obat paling mujarab untuk sabar terhadap proses yang kujalani bersama Duta. Bahwa walau pelahan, tapi anak-anak pasti akan tumbuh kemandiriannya. Suka tidak suka, capek tidak capek, repot tidak repot proses ini harus dinikmati.

Cara lain yang aku lakukan untuk melapangkan hatiku adalah mengikhlaskan hasil akhir dari masakan. Bantat, keasinan, bentuk berantakan, hasil tidak rata dan lain-lain dibuat asik saja. Toh apapun hasil makanannya pasti habis (karena tidak ada pilihan lain), hehehehe.

Pernah burn-outkah aku dalam proses masak bersama anak?

Walau jarang tapi tentu saja pernah. Biasanya itu terjadi kalau anak-anak pengen bikin sesuatu dengan semangat tinggi (di awal), tapi kemudian terlalu letih untuk menyelesaikan. Sementara, waktu terus bergulir hingga masuk jam makan siang. Jadi, mau tidak mau sambil menyelesaikan kue buatan anak-anak aku harus sambil masak untuk makan siang. Setelah itu masih ada tugas bebenah dapur yang berantakan dan urusan pekerjaan yang sduah menanti.

Kalau hal itu terjadi, maka biasanya aku setel musik, bikin kopi atau malah break sebentar untuk main game 5-10 menit, hehe…

Lho kok malah main game?  Intinya sih mencari “sesuatu” yang bisa mencerahkan hati. Biasanya begitu balik dari break, dapur dan isinya tidak lagi terasa mengintimidasi. Dan tentu saja kalau waktu makan sudah sangat mepet, maka berdamai dengan makanan instan juga bisa menjadi satu cara efektif untuk menyelamatkan kesehatan mental(ku) 😀

***

Walau proses membangun kemandirian anak di dapur itu panjang dan repot, tapi buah-buah yang tumbuh di sepanjang proses itu sangat membahagiakan dan menguatkan. Bahagia melihat proses Yudhis dari yang harus naik kursi untuk masak nasi goreng, sampai sekarang justru jadi dewa penolong karena tubuh kuatnya (yang kini satu kepal lebih tinggi dari aku) lebih kuat mengaduk rata nasi goreng. Begitu pula dengan Tata yang perlahan mulai bisa menguleni sendiri kue-kuenya. Semua itu tidak terjadi begitu saja.

Makanya, jika sekarang Duta sering masuk ke dapur di waktu yang kurang tepat. Aku senantiasa mengingat manisnya buah yang terjadi pada Yudhis & Tata sambil dalam hati komat-kamit, “Satu lagi Lala, tahan satu lagi…..” hehehehehe.