Menangani Anak yang Super Aktif

0
1441

Saya seorang ibu bekerja dengan satu anak. Bobby (4 tahun), sekarang sudah duduk di kelas TK A dan ia anak yang pintar. Tapi, namanya anak-anak pasti selalu mencari perhatian lebih dari mama-papanya. Setiap saya pulang kerja, ia sering meloncat-loncat, berlari ke sana-sini bahkan berteriak. Padahal, kondisi saya dan suami sudah lelah dan mudah terpancing emosi dengan perilaku Bobby.

Kami begitu menyayangi Bobby. Saat ia bertingkah tidak karuan, saya hanya menghela nafas panjang dan menekan emosi sampai titik nol. Aku berprinsip, harus berpikir positif, tidak boleh memarahi dan membentak anak. Hadapi dengan santai dan membuat suasana tegang menjadi menyenangkan.

Ketika Bobby teriak-teriak, maka saya ajak ia bernyanyi. Untuk mengimbanginya, saya ajak Bobby menyanyi lagu-lagu rock. Semuanya jadi menyenangkan. Kalau Bobby mulai loncat-loncat, saya kejar dia hingga ke kamar tidurnya dan kami bercerita. Cara ini sangat efektif, yang tadinya kesal bahkan kadang perut dalam keadaan lapar jadi berubah fun. Dampaknya sangat terlihat, meskipun masih aktif seperti biasanya tapi Bobby tidak lagi ‘ngambek’ dan mengerti kondisi mama-papanya sepulang kerja.

Dewi, jakarta

Harus tetap Sabar

Anakku, Reva (5 tahun) sangat aktif bertanya. Apapun yang ada di depannya pasti selalu ditanyakan padaku. Apalagi saat kami menonton televisi bersama, Reva sealu bertanya ini-itu padaku atau papanya. Sekali ia bertanya, tidak akan ada putusnya. Terkadang aku sempat sedikit kesal karena jika sudah dijelaskan maka Reva akan menanyakan pertanyaan yang sama lagi.

Menangani Reva yang sangat aktif bertanya, aku mengubah suasana menyebalkan menjadi mengasyikkan. Caranya, aku mengajak Reva berdiskusi dan akhirnya kami mengobrol. Meskipun banyak topik pembicaraan anak-anak yang tidak aku mengerti tapi aku berusaha menanggapinya. Yah, anggap saja aku sedang mengobrol dengan teman. Seru, bukan?

Di sela-sela obrolan, kadang Reva sambil  berteriak karena ada sesuatu yang menarik baginya di televisi. Kadang juga, ia berlari-lari karena menahan pipis. Wah, jika aku tidak sabar pasti suasana yang ada hanyalah suara bentakan dan tangisan Reva. Bagiku menghadapi anak seusia Reva harus tetap sabar, dan berusaha mengerti apa yang diinginkan anak.

Sisi, Bandung

Konsultasi pada Ahlinya

Andri (5 tahun) tidak pernah bisa duduk diam di kelasnya. Anak sulung saya ini hanya betah duduk selama 5 menit saja, selebihnya asyik dengan kegiatan lain. Itu pun kegiatan yang sifatnya mengganggu, misalnya mengambil pensil temannya, mencoret-coret dinding kelas atau menimpuk penghapus pada ibu gurunya. Setiap kali guru berusaha menenangkan Andri, ia selalu mengamuk. Jika dipeluk maka Andri memberontak.

Menurut dokter anak yang saya kunjungi, Andri menderita gangguan pemusatan perhatian yang diserta gejala hiperaktivitas motorik. Walaupun susah untuk berkonsentrasi dan fokus pada satu pelajaran, tapi Andri termasuk anak yang penurut. Jika saya atau papanya menyuruh Andri untuk belajar, ia langsung mengambil buku-buku pelajarannya. Namun, belajar hanya berlangsung 10 menit saja.

Saya dan suami selalu rajin memeriksakan kondisi Andri pada dokter spesialis anak. Setiap minggu, kami membawa Andri ke seorang psikolog untuk melakukan terapi. Kami tidak tahu sampai kapan proses pengobatan Andri akan berlangsung, yang terpenting kami akan mengusahakan yang terbaik untuknya.