Sopan santun adalah suatu tindakan yang amat terpuji. Semua orang pasti senang melihat perilaku sopan santun. Ia tidak terbentuk secara instan, tidak pula bawaan dari lahir. Sopan santun terbentuk karena kebiasaan yang diterapkan dalam waktu lama, merupakan tugas orangtuamengajarkan anak sopan santun sejak kecil.

Kecenderungan seorang anak ketika dia dewasa, dia akan bersikap layaknya dulu dia pernah belajar. Inilah beberapa hal penting yang harus menjadi perhatian orang tua dalam mengajarkan sopan santun kepada anak, diantaranya:

1. Orangtua menjadi role model

Pembentukan perilaku dan karakter sopan santun sangat dipengaruhi lingkungan sekitar. Anak pasti melihat dan menyontoh perilaku orangtua sehari-hari. AyahBunda merupakan model perilaku anak.

Di sisi lain, anak dianggap sebagai sosok peniru yang ulung. Sebaiknya orangtua selalu menunjukkan sikap sopan santun. Dengan begitu, anak pun secara otomatis akan mengadopsi perilaku tersebut. Mengajarkan sopan santun paling tepat adalah melalui contoh, tidak hanya melalui nasihat.

2. Harus konsisten 

Anak sering lupa bagaimana bersikap baik, sehingga sangat wajar bila ia tiba-tiba melakukan tindakan kurang sopan. Jangan langsung memarahinya. Tapi ingatkan dia bahwa tindakan tersebut tidak sopan. Beri peringatan dengan cara yang menyenangkan. Misalnya, “Wah, karena terlalu haus, jagoan Bunda lupa bilang terima kasih ya…”

Untuk membentuk sikap yang sopan dan santun, orangtua harus konsisten dan jangan bersikap permisif atau memaklumi dengan alasan apapun. Bila anak melakukan tindakan yang tidak sopan, ingatkan lagi, lagi dan lagi.

3. Koreksi secara sopan

Ketika anak membuat sebuah kesalahan, jaga intonasi dan suara tetap terkontrol. Tetap upayakan kontak mata dan letakkan tangan di bahunya sembari menasihati. Gestur ini merefleksikan jika orangtua mengoreksi anak karena kepeduliannya, bukan karena marah.

Kesopanan yang diperlihatkan pada anak akan menunjukkan betapa berharganya anak di mata orangtua. Orangtua ingin anak belajar dari kesalahannya serta selalu mendengarkan nasihat orangtua. Kelak anak juga akan menjadi orang dewasa yang dapat menghormati dan menghargai orang lain.

4. Jangan dijadikan lelucon

Sikap yang kurang sopan bukan lelucon atau bahan guyonan. Jangan menertawakan si kecil saat ia melakukan tindakan yang tidak santun. Bila anda atau anggota keluarga lain melakukannya, anak akan berpikir perbuatannya lucu, wajar dan benar. Ini akan membuat si kecil semakin sulit memahami makna sopan santun, apalagi mempraktekannya. 

5. Mulai dari hal kecil

Pengajaran tatakrama sebaiknya dimulai dari kehidupan sehari-hari dan dari hal yang kecil. Anakdikenalkan mengenai aturan-aturan atau adab sopan santun. Kelak kebiasan-kebiasan baik yang kadang luput dari perhatian ini akan terus dilakukan hingga dia besar.

Nah, berikut contoh-contoh sikap dasar yang perlu diberikan, yaitu:

  • Mengucapkan terima kasih jika diberi sesuatu atau ketika si prasekolah dibawakan sesuatu baik oleh orang tua maupun orang lain. Sekaligus mengajarkan menghargai jerih payah orang lain.
  • Mengucapkan “maaf” jika bersalah. Mengajarkan sportivitas dan berani mengakui kesalahan.
  • Mengucapkan tolong ketika meminta diambilkan sesuatu, misalnya. Dengan begitu, anak belajar untuk menghargai pertolongan atau bantuan orang lain.
  • Menyapa, memberi salam atau mengucapkan permisi jika bertemu orang lain. Mengajarkan pula perilaku ramah dan agar mudah bersosialisasi.
  • Mengajarkan adab menerima telepon. Sekaligus mengajarkan bagaimana berbudi bahasa yang baik. Dalam skala yang lebih luas, bagaimana bersikap di tempat umum, misalnya tidak berteriak-teriak, tidak memotong pembicaraan orang.
  • Mengajarkan privasi orang lain, misalnya mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk ke kamar tidur orang tua. Prinsip dasar sopan santun adalah menghargai hak dan perasaan orang lain. Ini akan menjadi dasar bagi anak untuk menjadi manusia yang beretika.
  • Etiket makan yang baik, tidak sambil jalan-jalan atau melakukan aktivitas lain. Sikap ketika makan di meja makan, tidak bersendawa atau makan sambil ngobrol, misalnya.

6. Jelaskan Tujuannya

Selain memberikan contoh yang baik, tentunya orang tua juga perlu menjelaskan pada si prasekolah kenapa harus menerapkan sopan santun. Misalnya, kalau anak berteriak-teriak atau lari kesana-kemari saat AyahBunda menerima tamu tentu akan mengganggu konsentrasi dan pembicaraan. Di sisi lain, AyahBunda pun jadi malu melihat tingkah-polah si anak. Sang tamu mungkin tak berkeberatan dengan sikap seperti itu, malah barangkali menganggap lucu. Akan tetapi, jika perilaku yang sama terus dilakukan efek jangka panjangnya cenderung negatif bagi si anak sendiri.

Barangkali si kecil juga tak tahu maksud harus mengucapkan terima kasih, maaf, salam dan sebagainya. Menjadi tugas orang tualah untuk menjelaskan alasan semua aturan atau tatakrama tersebut.

Nah, mengajak atau mengajarkan anak bersopan santun sekali lagi tidak perlu dengan cara yang keras. Namun upayakan dengan kelembutan sehingga anak betul-betul memahami maksud dan tujuan beretika. Umumnya, anak yang baik dan bisa menghargai orang lain adalah anak yang tahu sopan santun. Sebagai sebuah proses, bagaimana pun orang tua perlu sabar hingga anak mengerti dan menerapkannya.

Kelak, anak yang dibiasakan dari kecil untuk bersikap sopan santun akan lebih mudah bersosialisasi. Dia akan mudah memahami aturan-aturan yang ada di masyarakat dan mau mematuhi aturan umum tersebut. Anak pun relatif mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, supel, selalu menghargai orang lain, penuh percaya diri, dan memiliki kehidupan sosial yang baik. Pendek kata, dia tumbuh menjadi sosok yang beradab.

7. Latihan sambil bermain 

Mungkin anda sudah berusaha mengajarkan sopan santun pada anak. Tapi bisa saja ketika anak berhadapan dengan orang lain ia melakukan perbuatan yang kurang santun. Jangan menyerah. Cobalah melatih sikap sopan santun dengan mengajak anak bermain peran.

Coba minta si kecil menjadi tamu dan anda tuan rumahnya. Lakukan juga peran sebaliknya. Berperanlah sebagai tuan rumah yang sopan dan minta si kecil berperan sebagai tamu yang sopan. Biasanya, saat berperan anak akan menjadi “aktor” yang baik sehingga ia akan melakukan skenario yang sudah disepakati. Saat anak bersikap santun dalam peran yang dimainkannya pujilah perbuatannya. Tunjukkan bahwa anda sangat menghargai sikap positif ini.

8. Harus sejak dini

Mengenalkan dan mengajarkan tatakrama sebaiknya dilakukan sejak dini, setidaknya usia batita. Tentunya dikenalkan dari hal yang paling sederhana, seperti memberi salam, minta izin sebelum meminjam barang kakaknya, mengetuk pintu sebelum masuk kamar orang tua, dan sebagainya.

Jangan menunggu mengenalkan adab atau etiket ketika anak sudah besar. Jangan menyerahkan sepenuhnya perihal pengajaran sopan santun ini pada pihak sekolah, karena pembelajaran etiket atau tatakrama sebenarnya paling efektif dilakukan ayah dan ibu. Sudah menjadi tugas orangtua,mengajarkan anak sopan santun.