3 Perilaku Unik Pada Anak

0
354

Makin bertambah usia anak, makin lucu dan unik perilakunya. Apakah anak memiliki 3 perilaku unik berikut ini? Simak cara menanganinya.

1. Tanya: Mengapa anak 15 bulan saya senang membawa kunci atau balok mainan ketika berjalan di sekitar rumah?

Kemungkinannya adalah ia baru saja piawai berjalan, sehingga aktivitas ini menjadi tantangan fisik yang besar berikutnya: Berjalan sambil membawa sesuatu secara bersamaan. “Ketika anak belajar berjalan, yang hanya bisa dilakukannya adalah menyeimbangkan tubuhnya. Sekarang, ia bisa membungkuk, mengambil sesuatu tanpa terjatuh, dan membawa sesuatu ke seberang kamar. Ini merupakan kemajuan yang fantastis dari keterampilan motoriknya,” kata Alice Sterling Honig, Ph.D., pakar perkembangan anak di Syracuse University.

2. Tanya: Anak selalu mengulangi kata. Misalnya, saya bilang, “Yuk, makan!” Ia akan menyanyikan, “Makan, makan, makan!” Apakah ini normal?

Ini bukan saja normal, namun merupakan tahapan perkembangan lain menuju lancer berbicara. “Antara usia 15 – 18 bulan, mengulangi suatu kata lagi dan lagi adalah cara si batita memahami bagaimana kata tersebut digunakan,” kata Jacqueline Haines, executive director dari Gesell Institute for Human Development, New Haven. “Anak usia ini belajar menguasai kata melalui pengulangan, bersamaan dengan menikmati irama dan pola kata-kata. Itu sebabnya mengapa ia sangat suka lagu dan buku yang berima. Anak akan belajar sesuatu saat Anda membacakan buku favorit atau menyanyikan lagu favoritnya. Ia tahu, lho, begitu Anda melupakan suatu kata,” katanya lagi.

3. Tanya: Mengapa anak 18 bulan saya selalu menaruh sesuatu di toilet atau memainkan tisu jika memungkinkan?

Apa, sih, yang bisa lebih menyenangkan? Ya, toilet dan gulungan tisu cenderung membuat anak menjadi si peneliti sekaligus si nakal. “Saya menyebut masa 18 – 24 bulan ini sebagai tahapan ‘apa yang akan terjadi bila,” katanya. “Ketika anak membuka gulungantisu, seakan-akan tidak ada habis-habisnya. Ia jadi benar-benar sangat tertarik pada timbunan tisu yang ada. Dan, begitu selesai menggulung, ia baru menyadari kalau asyik juga memutar-mutar gulungan tersebut. Bagaimana dengan toiletnya? Batita bias bereksperimen dengan melihat seberapa tinggi air akan naik kalau ia memasukkan sesuatu ke dalamnya. Atau, ia begitu terpesona—atau mungkin sedikit takut— melihat berbagai benda akan menghilang begitu toilet disiram.”

Tentu saja, Anda ingin menghentikan aksi anak sebelum kamar mandi banjir, namun Anda tidak ingin mematikan rasa ingin tahunya. Apa solusinya? “Alihkan minatnya untuk bereksperimen pada sesuatu yang lebih aman,” saran Honig. Misalnya, tanyakan berapa coretan yang bisa dilakukan untuk memenuhi 1 lembar tisu. Anda tetap bisa menjawab tahapan ‘apa yang akan terjadi bila’ dengan cara yang lebih aman.