5 Penghambat Kreatifitas Anak

0
371

Mengerti kepribadian anak adalah hal yang tidak mudah bagi kebanyakan orang tua. Tidak jarang anak mengalami pola asuh yang salah dari orang tuanya, karena pengetahuan orang tua masih kurang dalam mengasuh buah hatinya. Agar kita tidak menggunakan pola asuh yang salah bagi buah hati kita, mari kita perhatikan beberapa hal yang bisa menghambat kreatifitas anak seperti berikut :

1. Tidak percaya pada anak

Anak-anak yang merasa tidak dipercaya oleh orang tuanya juga bisa mebuat mereka menjadi rendah diri. Misalnya, pada saat buah hati kita ingin membantu barang bawaan hasil belanjaan. Karena kita tidak percaya, kita tidak memperbolehkannya. Bila kita mengalami hal yang serupa, alangkah lebih baik bila kita juga memberikan kesempatan buat sang buah hati untuk bisa membantu kita. Contoh kecilnya seperti memberikan barang belanjaan yang lebih ringan dan mampu diangkat oleh seorang anak. Masih banyak kasus yang lain yang menunjukkan sikap kepercayaaan kita pada sang buah hati.

2. Mencela anak

Memberikan komentar negatif atas apa yang dilakukan anak atau hasil yang dikerjakan oleh anak juga bisa membuat anak menjadi down. Mereka biasanya menjadi kehilangan gairah untuk berkreasi, dan belajar hal-hal yang baru. Alangkah lebih baik, bila kita banyak memberikan pujian, meski apa yang dilakukan oleh buah hati kita tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Berikanlah kata-kata atau komentar yang bersifat memuji dan memotivasi, supaya anak-anak menjadi lebih bersemangat dalam belajar menjadi lebih baik lagi.

3. Terlalu khawatir

Mungkin kita pernah menemukan buah hati kita sedang bermain bersama temannya. Dan dengan perasaan khawatir, atau bahkan membuat anak menjadi takut atau kaget juga bisa memberikan kontribusi negatif pada kejiwaan anak. Bila anak mulai bermain atau melakukan hal-hal yang berbahaya, tetaplah tenang dalam menangani mereka. Jangan buat mereka kaget atau takut. Karena anak yang terlalu sering dikagetin dan dibuat takut, biasanya menjadi suka menutup diri dari pergaulan pada saat mereka beranjak dewasa.

4. Tidak memberikan kesempatan berekspresi

Anak-anak usia dini, suka sekali berlari, berteriak, bermain sambil ngomong sendiri, memainkan permainannya dengan berisik, dan lain-lain. Mungkin sebagai orang yang dewasa, hal ini sangat mengganggu, sehingga kadang kita menyuruh mereka untuk tidak berisik. Dengan menyuruh mereka untuk bermain dengan tenang dan tidak membuat gaduh, anak-anak menjadi merasa tertekan. Dalam tekanan inilah, anak-anak menjadi kurang bisa berekspresi secara bebas.

Alangkah baiknya, bila kita memberikan kesempatan anak-anak untuk berekspresi secara bebas. Bisa dengan cara memberikan ruangan bermain khusus bagi mereka, menemani mereka, atau bisa juga dengan cara membuatkan jadwal bermain bagi mereka. Mengajak anak-anak bermain di ruangan terbuka, misalnya dengan mengajak bermain di taman dan wisata alam akan sangat membantu anak untuk bisa berekspresi secara kreatif dan bebas.

5. Menghukum secara fisik dan membentak

Menghukum anak secara fisik (memukul, menjewer, mencubit, dll) serta membentak dengan suara keras, mungkin anak akan merasa takut, tapi untuk jera saya kira akan sangat sulit. Anak yang sering dihukum secara fisik dan dibentak, biasanya hanya tampak baik pada saat mereka ada di depan kedua orang tuanya. Namun di luar sana, misalnya di lingkunagn sekolah atau masyarakat, kemungkinan besar mereka bisa melakukan kesalahan yang sama. Karena anak jaman sekarang tidak suka diperlakukan seperti ini, mereka cenderung lebih cerdas dalam berpikir.

Misalnya, buah hati kita menyakiti temannya, dan kita menghukumnya dengan mencubit, tentu saja anak menjadi bingung arti “didikan” kita. Bisa saja buah hati kita berpikir kalau perlakuan kasar, dibalas dengan perlakukan kasar adalah halal hukumnya. Bila buah hati kita melakukan kesalahan, alangkah lebih baik bila kita lebih menasihati dan mengarahkan mereka dengan alasan-alasan yang logis. Misalnya dengan mengatakan, ”Kalau kamu tidak mau disakiti teman, jangan menyakiti temen ya.. Atau dengan menanyakan, ”Dicubit itu sakit tidak? Kamu mau dicubit?” Tentu saja tidak perlu membentak, walaupun harus tegas saat mengatakannya. Hal itu pasti akan lebih diterima oleh sang anak, dan karakter sang anak pun akan terbentuk “dari dalam”.