Membantu Anak yang Sedang Mengalami Stress atau Depresi

0
359

Anak-anak jaman sekarang mengalami lebih banyak stress dibandingkan masa lalu. Dunia mengalami perubahan dengan cepat dan kompleks. Anak-anak sebenarnya tidak mengalami perubahan, tetapi mereka harus beradaptasi untuk mengikuti perkembangan dunia.

Ketika anak terlalu banyak mengalami stress, biasanya mereka akan menunjukkan tanda-tanda fisik seperti menghisap jempol, mengompol, sering mengedipkan mata, sering bermimpi buruk, menolak untuk pergi sekolah, bertingkah laku lebih muda dari usianya, sakit perut atau sakit kepala, dan sebagainya.

Anak-anak yang masih kecil belum memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi atau mengungkapkan perasaan mereka sendiri. Mereka berjuang dengan emosi mereka sendiri. Terkadang mereka juga tidak dapat memulai percakapan mengenai apa yang mengganggu mereka, tetapi mereka ingin orang tua untuk dapat membantu mereka.

Tidaklah mudah juga bagi orang tua untuk mengetahui apa yang harus dilakukan untuk membantu anaknya menghadapi stress. Berikut adalah beberapa tipsnya :

1. Bantu anak untuk mengidentifikasinya perasaannya. Bila anak terlihat marah atau frustasi, beri nama dengan kata-kata dan jelaskan perasaannya. Misalnya seperti, “Kamu sepertinya marah dengan apa yang terjadi barusan.” Memberi nama apa yang dirasakan oleh anak-anak, seperti marah, sedih, frustasi, khawatir akan membantu mereka berkomunikasi dan menumbuhkan kesadaran emosi atau kemampuan untuk mengenali keadaan emosi mereka.

2. Dengarkan dan beri empati. Dengarkan dengan tenang dan penuh perhatian. Hindari keinginan untuk menghakimi, menyalahkan atau apa yang Anda pikir apa yang seharusnya anak lakukan. Intinya adalah membiarkan kekhawatiran dan perasaan anak didengar. Coba cari tahu lebih lanjut dengan mengajukan pertanyaan seperti “Lalu apa yang terjadi?” dan berikan komentar mengenai perasaan yang telah anak alami, seperti “Pasti itu membuat kamu kesal ya?”

3. Bila ada suatu masalah spesifik yang membuat anak stress, bicarakan dengan anak apa yang harus dilakukan. Biarkan anak berpikir apa yang dapat dilakukan. Anda dapat memulai dengan mengajukan beberapa ide, tetapi jangan melakukannya semua untuk anak.

4. Partisipasi dari anak akan membangun kepercayaan dirinya. Kadang dengan berbicara dan mendengarkan serta memberikan empati sudah cukup membuat rasa frustasi anak menghilang. Setelah itu, coba untuk mengganti topik pembicaraan ke sesuatu yang positf dan menyenangkan. Bantu anak untuk melakukan sesuatu sehingga mereka merasa lebih baik. Jangan memberikan perhatian kepada masalah yang membuat anak stress terlalu berlebihan.