|
Memupuk Semangat Belajar
"Anakmu les apa?” tanya Bu Tati pada Bu Yuyun yang kebetulan duduk bersebelahan denganku.
“Wah, macam-macam, Bu. Ada les berhitung, bahasa Inggris dan menggambar,” jawab Bu Yuyun. Tak mau kalah, Bu Tati pun menjawab dengan cepat, “ O..., sama! Malah anakku masih ditambah les membaca dan ngaji tiap hari. Pokoknya full day, lah!’’. Kulihat Bu Tati tersenyum bangga bisa memberikan seabrek kegiatan bagi puteri kecilnya, Allya yang masih berusia 4 tahun. Mendengar jawabannya Bu Yuyun manggut-manggut dan aku tertegun. Tiba-tiba Bu Tati menepukku.
“Bu Kiki… Anakmu les apa?” Dengan gugup kujawab bahwa anakku belum kumasukkan ke sanggar mana pun begitu pula les. Mereka berdua kelihatan terheran-heran.
“Wah, hari gini loh, Bu. Ntar anakmu bisa ketinggalan kereta’’. “Iya, nih. Ingat, loh. Anak-anak kita lahir di era digital jadi mesti ngikutin perkembangan zaman yang begitu cepat,’’ timpal Bu Yuyun.
Saat itu aku hanya bisa terdiam mendengar celoteh dan nasihat para ibu yang membanggakan kegiatan harian putera-puteri mereka. Haruskah aku juga seperti mereka? Apa jadinya anakku bila tak seperti mereka? Ah, percakapan di sekolah tadi membuatku pusing kepala. Semua yang diobrolkan terasa menyudutkan dan menyesakkan hatiku. Aku ingin segera pulang dan membenamkan kepalaku di bantal sambil berteriak sekencang mungkin.
Sesampai di rumah, aku menuju kamar dan menutupi mukaku dengan bantal berharap jangan sampai Rio anakku tahu aku sedang menangis. Aku menyesal tak mampu berbuat banyak untuk Rio. Bagaimana tidak? Dari segi ekonomi aku tak semampu teman-temanku. Mereka bisa memfasilitasi buah hatinya dengan berbagai pelajaran tambahan baik itu metode hitung cepat, membaca, memasukkan ke sanggar tari atau menggambar. Sedangkan Rio? Mainannya hanya plastisin murahan warna-warni atau menggambar dengan crayon patah-patah bekas milik kakaknya. Tiap hari pun kerjanya hanya bermain dengan Rudi, kakaknyadi yang kini duduk di kelas 6SD. Bukan dengan komputer, PS atau laptop seperti teman-temannya.
Sampai sore hari aku masih saja be-te. Sepertinya suamiku menyadari adanya perubahan dan bertanya. Dengan hati-hati aku menceritakan apa yang terjadi. Kutumpahkan kegelisahan hatiku. Tak terasa air mata bercucuran ketika suami mendekapku.
“Ma, apa kau tak sadar bagaimana Rudi dulu? Dia menatapku. “Aku tahu kita masih hidup penuh keterbatasan tapi bukan berarti kondisi kita adalah harga mati untuk membuat anak tumbuh pintar, bukan?”
Suamiku membuatku flash-back mengingat betapa di saat Rudi kecil tumbuh jauh lebih terpuruk dibanding sekarang. Untuk membeli buku pelajaran pun kami tak mampu dan mengakalinya dengan fotokopi kertas buram. Namun semua itu tak menyurutkan niatnya untuk giat belajar. Suamiku ingat betapa aku selalu mendampinginya belajar. “Sebenarnya kau pun sudah merupakan guru terbaik bagi anak-anakmu, Ma. Tinggal bagaimana kita sebagai orangtua selalu memperhatikan kebahagiaan juga kemajuan pendidikan untuk masa depannya nanti”. Suamiku mengecup keningku dan menguatkanku agar jangan patah semangat mendorong anak belajar meski dalam keterbatasan.
Ah, benar juga. Anak pintar bukanlah monopoli kalangan berduit saja. Buktinya anakku Rudi bisa menjadi juara pertama lomba cerdas cermat di tingkat Kabupaten. Sekali lagi kutetapkan dalam hati untuk pantang menyerah!
Kinara Jongga Varga, Ungaran, Jawa Tengah
|
|
Disclaimers:
Opinion expressed by author and advertisers are
not necessarily those of the editor and publisher.
While every case has been taken in the compilation
of materials in this site, Nasyith Majidi, the
editor and publisher of this site accepts no responsibility
for any errors or omissions therein. Readers are
advised to consult their medical practitioners
for advice on any health and parenting problems.
|