Kabar mengenai autisme semakin lama semakin banyak terdengar. Tidak sedikit informasi terkait yang bereedar cukup meresahkan. Lantas, apa fakta benarnya?Tak ada yang bisa menutup mata mengenai keberadaan autisme. Bahkan di negara maju seperti Amerika Serikat sekalipun. Berdasarkan data National Institute of Nerurological Disorder & Stroke, di Negeri Paman Sam tersebut para ahli terkait memprediksikan 3 dari 6 anak dari setiap 1000 orang anak memiliki ASD (Autism spectrum disorder). Fakta lain yang disebutkan dalam situs ninds.nih.gov adalah anak laki-laki memiliki resiko 4 kali lebih besar daripada anak perempuan.
Sementara itu, Dr. Herbowo AF Soetomenggolo SpA, dokter spesialis anak dari Rumah Sakit Hermina Jakarta memaparkan mengenai gejala singkat autis yang bisa dikenali para orangtua di rumah. ‘’Biasanya gejala autisme bisa terlihat mulai pada usia 6 bulan yaitu kurangnya kontak sosial dan perhatian pada lingkungan sekitar. Biasanya sulit ditemui senyum sosial dan tidak merespon dengan panggilan nama. Pada usia sebelum 1 tahun juga sudah mulai tampak keterlambatan bicara dimulai dari kesulitan babling atau timbulnya suara-suara yang tidak sesuai dengan apa yang diucapkan pengasuh,’’ katanya.
KETERLAMBATAN BICARA & AUTISME
Banyak orangtua yang mengkhawatirkan speech delay yang dialami anak-anaknya sebagai kemungkinan dari autisme. Lantas, benarkah autisme sealu ditandai dengan speech delay? Menurut dr. Herbowo, sesuai definisi autisme yaitu gangguan perkembangan yang ditandai masalah interaksi sosial dan komunikasi disertai perilaku yang terbatas dan repetitif maka anak autisme memang akan mengalami keterlambatan komunikasi atau speech delay. Meski demikian, bukan berarti setiap anak yang mengalami speech delay bisa langsung dikategorikan menderita autis. Itulah pentingnya bagi Anda, para orangtua untuk sesegera mungkin memeriksakan si buah hati tercinta pada klinik tumbuh kembang, terlebih jika Anda menemui gejala-gejala autisme seperti telah disebutkan di atas.
BISAKAH SEMBUH?
Pertanyaan itu mungkin selalu menghinggapi ruang hati dan pemikiran Anda, jika Anda adalah orangtua yang memiliki anak autis. Ternyata, pada autisme ringan, dengan latihan maka anak dimungkinkan untuk dapat bersosialisasi dan berkomunikasi dengan lingkungannya. Sementara, pada autisme yang berat, sedini mungkin anak harus mendapat program rehabilitasi medik berupa sensori integrasi yang bertujuan menarik anak dari “dunia”nya. Nah, setelah anak mempunyai kontak dengan lingkungannya maka akan relatif lebih mudah untuk mengajarkan anak berkomunikasi dengan lingkungan serta melakukan kegiatan sehari-hari mengurus dirinya sendiri.
Dengan demikian, harapan itu tetap ada kok Bunda... Mau contoh? Sebut saja, Bernard Rimland, Ph.D, seorang ayah yang memiliki putra bernama Mark. Pria yang berprofesi sebagai psikolog itu suatu hari mendampatkan fakta bahwa puteranya tersebut menderita autis. Namun, dengan penanganan tepat, saat ini Mark telah menjadi seorang pelukis dan ilustrator. Bahkan kekaryaannya dalam berkesenian telah mengundang minat beragam media untuk mewawancarai Mark Rimland, seperti CBS, CNN serta PBS networks. Atau, penulis buku Elijah’s Cup bernama Valerie Paradiz yang dalam situs autism-society.org ia mengakui bahwa dirinya pengidap Asperger’s syndrome, bahkan putera semata wayangnya juga terdiagnosis autis. Meski demikian ia tidak pernah menyerah. Mungkin dirinya tidak pandai berkomunikasi dengan orang lain tetapi ia memiliki kemampuan yang mumpuni dalam menulis, hingga menghantarkannya menjadi seorang penulis profesional. PG
4 FAKTA BENAR TENTANG AUTISME
Banyak informasi yang serba simpang siur tentang autisme, nah berikut ini merupakan sejumlah fakta benar tentang autisme dari Dr. Herbowo AF Soetomenggolo SpA, dokter spesialis anak dari Rumah Sakit Hermina Jakarta yang mungkin bermanfaat sebagai rujukan informasi bagi Anda.
- Autis disebabkan oleh vaksin merupakan mitos. Telah dilakukan banyak penelitian dengan metode yang baik serta jumlah subyek penelitian yang besar, ternyata tidak satupun yang menunjukkan hubungan bermakna antara vaksin dan autisme.
- Autis terkait genetik. Beberapa penelitian memang menunjukkan autisme berhubungan dengan faktor genetik.
- Anak autis (tidak selalu) harus pantang makan tepung-tepungan dan MSG. Tidak semua anak autis harus menjalani diet seperti ini. Tetapi pada anak dengan autisme berat yang sulit diperbaiki dengan program rehabilitasi medik maka sebaiknya mulai dilakukan pengurangan konsumsi tepung-tepungan.
- Anak autis tetap butuh perhatian dan kasih sayang. Walaupun anak autisme seperti hidup di dunianya sendiri, mereka tetap butuh kasih sayang. Sayangi anak Anda, dan lakukan sedini mungkin program-program rehabilitasi medik, maka anak Anda akan semakin menyadari bahwa dilingkungannya banyak orang yang mencintainya dan memperhatikannya.