Cetak Artikel Ini  
As They Grow - 2 Years
Serunya Bermain Air!

Masuk angin, terpeleset, basah kuyup, dan tenggelam merupakan resiko bermain air. Tapi kenapa tak ada kata bosan bagi anak-anak untuk bermain air? Bagaimana supaya mereka tetap seru dan aman saat bermain air?

Setiap kali berkebun di akhir pekan, Elin tak lupa mengajak anaknya, Jessy (3 tahun). Saat asyik menggunting daun-daun, tiba tiba Elin tersadar, ”Kok sepi, tidak terdengar suara Jessy?” Begitu dia menengok, dilihatnya Jessy sudah ”duduk manis” di dalam kolam kecil di sudut taman. Semua peralatan berkebunnya sudah pindah ke dalam kolam ikan, bersama daun dan bunga-bunga. Sementara Jessy, tanpa mempedulikan bajunya yang basah, berusaha menangkap ikan-ikan dengan sekop plastiknya dengan asyik. ”Waduh bahaya..., ikan-ikan bisa stress!” teriak Elin dalam hati. ”Aduh Jessy, ayo keluar! Nanti kamu masuk angin!” ”Nggak mau! Nggak mau!” Jessy meronta-ronta saat Elin mengangkatnya dari kolam.

Penuh Sensasi
Secara alamiah, anak-anak sangat senang bermain air. Mereka sudah berkenalan dengan air jauh sebelum terlahir di dunia, tepatnya saat mereka masih berenang dalam ketuban di rahim Ibu. Meskipun beberapa anak mengalami ketakutan saat berdekatan dengan air, biasanya itu disebabkan adanya trauma sebagai pemicu, misalnya pernah tenggelam atau menjadi korban banjir.

Namun, kebanyakan anak-anak sangat menikmati saat bersentuhan dengan air. Seandainya tidak dilarang, mereka pasti berlarian ketika hujan turun untuk menikmati sensasi rintik air hujan. Belum lagi saat menemukan genangan air di jalan. Biasanya mereka sengaja menginjak genangan supaya bisa menikmati sensasi cipratan air tanpa mempedulikan apakah itu air bersih atau kotor. Demikian juga saat mereka menemukan tombol fush di kloset. Ada saja alasan mereka untuk bolak-balik ke kamar mandi, padahal sebenarnya mereka hanya ingin memencet tombol flush untuk menikmati sensasi dari gerakan air yang mengguyur kloset dengan deras. Banyaknya sensasi menyenangkan yang timbul dari gerakan air, membuat anak sangat senang untuk bermain dengan segala hal yang bersentuhan dengan air.

Jangan Dilarang
Bermain adalah pekerjaan utama anak-anak yang sangat menyenangkan karena dengan bermain mereka mendapatkan pengalaman baru, sehingga memupuk kecerdasannya. Rasa ingin tahu yang besar, membuat mereka ingin melihat, menyentuh, meraba, bahkan mencoba untuk memuaskan rasa penasarannya. Kalau kita melarangnya, berarti kita menghalangi mereka untuk mendapatkan pengalaman baru.

Namun kalau bermain air, bukankah resiko masuk angin, terpeleset, tenggelam, maupun kecelakaan yang lain cukup besar? Psikolog Sari Dwiyani, Psi., memberikan beberapa tips supaya anak saat bermain air tetap seru dan aman adalah :
  • Temani anak bermain. Berikan pendampingan meskipun secara fisik Anda tidak di sebelahnya. Anda bisa sambil mengerjakan pekerjaan yang lain, namun pastikan anak masih dalam jangkauan Anda. Sehingga jika anak menanyakan sesuatu atau membutuhkan pertolongan, Anda bisa segera membantunya.
  • Di ruangan terbuka. Dengan bermain di ruangan terbuka dan lapang, anak akan mendapatkan udara yang cukup segar dan Anda akan lebih mudah memantaunya.
  • Tempat yang aman. Jika bermain airnya di pantai atau di kolam renang, pastikan keamanannya. Pilihlah pantai yang tidak bergelombang besar dan terjaga kebersihannya. Demikian juga untuk kolam renang, pilihlah kolam yang terpisah antara kolam anak dan dewasa, lantainya tidak licin, serta terjaga kebersihannya.
  • Tidak berlebihan. ”Jangan main air! Nanti kamu masuk angin!” adalah ucapan yang sering dilontarkan orangtua saat anak bermain air. Padahal jika kondisi badan fit dan  waktunya tidak berlebihan, maka bermain air tidak akan menyebabkan masuk angin maupun penyakit yang lain. Berikan batasan waktu bermain kepada anak supaya tidak berlebihan, ”Sebentar lagi acara kartun dimulai. Ayo bersihkan badan, supaya tidak ketinggalan kartun kesayanganmu!”
  • Jangan takut basah dan kotor. Kalau anak sedang bermain air, janganlah Anda berpesan, ”Adik boleh bermain air, tapi awas ya, jangan sampai bajunya basah!” Biarkan saja, badan dan baju anak basah adalah resiko bermain air. Setelah selesai, segera bersihkan badannya dan gantilah dengan baju bersih yang kering.
  • Sambil bekerja. Ajaklah anak bermain air saat Anda sedang melakukan aktivitas menggunakan air, seperti saat mencuci mobil, sepeda, sepatu, maupun saat menyiram bunga. Sehingga dalam satu waktu Anda bisa mendapatkan dua kegiatan, bekerja dan menemani si kecil bermain.
Bermain dan Belajar
Bermain air sangat seru dan menyenangkan. Namun, jangan sampai anda kehilangan golden opportunity untuk menyampaikan pengetahuan yang memupuk kecerdasan anak. Jadi pilihlah kegiatan yang juga mengasah kecerdasan si kecil seperti :
  • Mengenal benda tenggelam dan terapung. Berlombalah dengan anak melemparkan berbagai benda ke dalam air, kemudian mintalah dia untuk menyebutkan mana yang terapung dan mana yang tenggelam.
  • Mengisi berbagai wadah. Kumpulkan berbagai bentuk wadah seperti botol, toples, gayung, mangkok, dan lain-lain. Mintalah anak untuk mengisinya dengan air sambil bimbinglah berhitung. Maka anak akan belajar berhitung dan mengenal sifat benda cair yang berubah mengikuti wadahnya, belajar menuang dan mengisi, dan lain sebagainya.
  • Menyiram bunga. Anda bisa mengajarkan bahwa tumbuhan pun memerlukan air supaya bisa tumbuh dengan subur.
  • Mencuci mobil atau sepeda. Kegiatan ini paling menyenangkan bagi anak karena selain basah-basahan, mereka juga bermain busa. Anda bisa mengenalkan nama-nama bagian mobil atau sepeda untuk memperkaya keterampilan bahasanya.
  • Hujan-hujanan. Banyak orangtua yang melarang anak untuk hujan-hujanan. Tapi sekali waktu, Anda bisa mengajaknya bermain hujan-hujanan dengan aman. Caranya mudah, cukup gunakan payung dan jas hujan dan lihatlah betapa bahagianya mereka saat merasakan butiran-butiran air hujan menetes di payung dan jas hujannya. Lakukan tidak terlalu lama, setelah itu Anda akan mudah mengenalkan mengenai konsep hujan, manfaat, dan bahayanya.
  • Tanamkan konsep hemat. Dengan mengenal manfaat air, ajaklah anak untuk menggunakan air sesuai kebutuhan dengan cara sederhana, Misalnya setelah anak menyalakan kran untuk cuci tangan, ”Tolong, segera matikan kran ya, Dik! Supaya kita tidak kehabisan air untuk minum dan mandi.”
Jangan sampai kegiatan bermain air hanya membawa hasil setumpuk pakaian basah yang harus dicuci saja. Tapi pilihlah aktivitas yang berpotensi mengasah kecerdasan anak. Main air, siapa takut?

Hari Gini Anak Cacingan?

Penyakit cacingan merupakan penyakit tropis yang identik dengan lingkungan kotor. Tapi, apakah dengan tinggal di komplek yang bersih sudah menjamin anak kita dari penyakit cacingan?

Rina prihatin melihat anaknya, Ocha (2,5 tahun) selalu gelisah saat tidur dan cepat lelah saat bermain. Rina berfikir, mungkin ini disebabkan Ocha yang selalu malas-malasan saat makan. Dia berusaha memberikan vitamin dan mencoba berbagai variasi makanan, supaya Ocha bersemangat makan. Namun, strategi tersebut tidak berhasil karena Ocha ama sekali tidak tertarik untuk menyentuh makanan yang terhidang. Nenek yang baru datang punberkomentar, ”Ocha kok kurus? Jangan-jangan, dia cacingan!” ”Mana mungkin, Bu. Kita kan tinggal di rumah dan lingkungan yang bersih,” Rina seolah tidak mau percaya karena dia selalu menjaga kebersihan rumah, makanan dan pakaian keluarganya. ”Hari gini... mana mungkin anakku cacingan?”

Pencuri Nutrisi
Cacingan adalah jenis penyakit tropis yang disebabkan oleh cacing yang ditularkan melalui tanah. Di dalam tubuh, cacing-cacing nakal tersebut mencuri nutrisi makanan yang masuk ke dalam saluran pencernaan, sehingga mengurangi asupan gizi yang dibutuhkan oleh tubuh dan juga mengurangi daya tahan tubuh terhadap penyakit. Ciri-ciri anak yang menderita cacingan antara lain   badannya kurus dan beratnya susah naik, nafsu makan berkurang, diare, mual, muntah dan nyeri.  Anak penderita cacingan terlihat lemah, letih, loyo, lalai dan lemas, sehingga pertumbuhannya terganggu. Selain itu, ada jenis cacing yang dapat menghisap darah dalam usus, sehingga penyerapan zat makanan dalam usus anak menjadi terganggu. Untuk mengobatinya, dokter akan memberikan obat seusai dengan usia, berat, dan jenis cacing yang mmenyerang.

Cacing-Cacing Nakal
Menurut Imam Musbikin, dalam ”Mengatasi Anak-Anak Bermasalah”, ada empat jenis cacing yang merupakan parasit dalam tubuh manusia yang mengakibatkan gangguan kesehatan :
  • Cacing gelang (Ascaris Lumbricoides).  Cacing gelang betina dapat menghasilkan 200.000 telur sehari yang akan keluar bersama tinja,. Melalui bantuan angin, lalat, tikus, atau binatang lain, telur tersebut kemudian menempel pada makanan yang tidak tertutup. Bila makanan tersebut dimakan manusia, makan telur tersebut akan masuk ke dalam tubuh manusia.
  • Cacing cambuk (Trichuris Trichiura). Biasanya cacing ini mengeram dalam usus besar dan melepaskan telurnya bersama kotoran manusia. Jika infeksinya berat, sering menimbulkan perlukaan usus, diare, dan anemia.
  • Cacing tambang. Cacing ini menempel pada dinding usus halus sambil menghisap darah untuk kelangsungan hidupnya. Bila ada kontak dengan kulit manusia, misalnya menempel pada telapak kaki saat anak bermain di taman, larva yang telah bertumbuh dapat menembus masuk ke dalam kulitnya, bahkan mencapai aliran darah. Setelah sampai di usus halus, larva menjadi cacing dewasa dan mampu mengisap 0,03-0,3 cc darah perhari.
  • Cacing kremi (Oxyuris vermicularis) . Infeksinya dengan cara tidak sengaja melalui jari tangan anak-anak, yaitu pada saat anak menelan telurnya melalui makanan yang tercemar atau menghirup debu yang mengandung telur cacing. Kebiasaan anak memasukkan jari, mainan, atau benda apapun ke mulut juga bisa mengantarkan telur ke dalam tubuh. Cacing betina akan bergerak ke arah anus dan menyebabkan gatal pada daerah anus.
Hiudp Bersih
Tinggal di komplek perumahan yang rapi dan terjaga kebersihannya, ternyata tidak menjamin anak kita terbebas dari penyakit cacingan. Meskipun rumah, dan lingkungan sekitar sudah kita jaga, namun sebagai makhluk sosial, kita tidak pernah bisa lepas dari orang lain. Kontak dengan orang lain membuat semua orang beresiko untuk mendapatkan penyakit cacingan. Pemberian obat cacing bersifat sementara karena hanya membuang cacing dalam tubuh, dan cacing bisa masuk kembali lewat berbagai jalan. Lebih baik,  biasakan anak hidup bersih dengan :
  • Biasakan cuci tangan sebelum makan menggunakan sabun, untuk mematikan kuman maupun telur-telur cacing yang menempel di tangan,
  • Cuci sayuran, buah, dan bahan makanan yang hendak diolah menjadi masakan. Cacing maupun telur yang menempel di sayur, diharapkan luruh bersama air.
  • Potong kuku secara rutin. Kuku-kuku panjang merupakan sarang yang nyaman bagi cacing. Oleh karena itu, potonglah secara rutin untuk menghindari mereka beranak-pinak di sana.
  • Menggunakan alas kaki saat bermain. Bila anak senang bermain di kebun, taman, atau lapangan, jangan lupa siapkan alas kaki untuknya. Karena jika anak berjalan tanpa alas kaki dan menginjak larva infektif, maka larva akan menembus jaringan di bawah kulit kaki
  • Buang air besar di kloset, dan guyurlah BAB dengan air sampai bersih. Cacing gelang akan mengeluarkan telur dalam jumlah banyak bersama tinja. Maka, janganlah buang air besar di sembarang tempat karena angin bisa menyebarkan telur-telur cacing kemana-mana.
  • Menyimpan makanan di tempat yang tertutup, untuk menghindari lalat-lalat yang biasanya terbang dari tempat kotor, dan hinggap ke makanan tersebut.
  • Segera bawa ke dokter untuk mendapatkan pengobatan, jika gejala cacingan terlihat jelas.
Jangan anggap sepele penyakit cacingan. Dia tidak hanya mencuri nutrisi makanan dan membuat badan lemah, letih, loyo, lalai dan lemas, tapi jika tidak segera ditangani akan sangat mengganggu tumbuh kembang anak. Laksanakan hidup bersih untuk menjaga anak kita dari gangguan cacing-cacing nakal.

Disclaimers:
Opinion expressed by author and advertisers are not necessarily those of the editor and publisher. While every case has been taken in the compilation of materials in this site, Nasyith Majidi, the editor and publisher of this site accepts no responsibility for any errors or omissions therein. Readers are advised to consult their medical practitioners for advice on any health and parenting problems.

 
Edisi September 2010
 
PILIH EDISI
-  
 
X-Poll
poll
Apa kendala terberat Anda menjelang lebaran tahun ini?
 Asisten Rumah Tangga pulang kampung
 Biaya mudik membengkak
 Pekerjaan kantor menumpuk
 Liburan yang pendek

Lihat Hasil
Vote