Sekarang si kecil suka memaksa melakukan apa-apa sendiri, padahal sebenarnya dia belum terampil melakukannya. Dia sok tahu atau tidak butuh kita lagi? “Aku aja!” teriak Ara (3 tahun), sambil merebut gayung dari tangan sang mama, Fira. ”Mama keluar aja. Aku mau mandi sendiri!” pintanya kepada Fira. “Mama mandiin aja ! Nanti kamu nggak bersih mandinya!” Fira membujuk. Ara berkeras, “Nggak mau. Aku bisa mandi sendiri!” Namun Fira tidak mau kalah, diambilnya shower dan disemprotnya badan Ara dengan air. Dia tahu pasti, bahwa Ara belum bisa mandi sendiri dengan bersih, terutama untuk menggosok punggung dan membersihkan kotoran yang menyelinap di balik lipatan kulit. Ara pun menangis sambil berteriak-teriak, ”Nggak mau dimandiin! Nggak mau! Aku bisa sendiri! Mama nakal!”
Bisa Sendiri
Anda mungkin sering mendapati anak usia 3 tahun yang mulai menolak bantuan, dan bersikeras untuk melakukan pekerjaan sendiri. Meski terkadang pekerjaan tersebut sulit dan membuatnya frustasi, tetapi dia bertekad untuk menyelesaikannya sendiri. Dari urusan mandi, keramas, memakai baju, memakai sepatu, mengangkat barang, bahkan menjangkau mainan di tempat tinggi, semua ingin dilakukannya sendiri.
Menurut Lynn Weiss, Ph.D., dalam How to Read Your Child Like a Book, anak merasa tertantang untuk melakukan sendiri karena memang pada usia tersebut terdapat dorongan yang kuat untuk menjaga dirinya sendiri dan melakukan berbagai hal untuk dirinya sendiri. Anak ingin belajar bagaimana menggunakan anggota tubuhnya. Dengan berlari, melompat, memanjat, mengangkat gayung, memakai baju dan lain sebagainya, dia mengetahui apa saja yang bisa dilakukan oleh tubuhnya. Selain itu dia belajar tentang identitas dan bagaimana menguasai lingkungannya.
Sementara itu, bagian tersulit yang dihadapi orang tua adalah bersabar menghadapinya. Saat anak usia 3 tahun ingin memakai baju sendiri, makan sendiri, atau mandi sendiri, tentu saja membutuhkan waktu yang relatif lebih lama, bahkan kadang mengalami kegagalan karena bajunya terbalik, nyangkut di leher, atau makanan yang berceceran di lantai. Kesabaran orangtua untuk membiarkan anak melakukan berbagai hal tanpa bantuan sangat dibutuhkan karena sebenarnya anak sedang melakukan pekerjaan besar, yaitu mengasah kemandirian.
Berilah Ruang
Bersyukurlah jika anak Anda menunjukkan keinginan untuk melakukan berbagai hal sendiri. Meski masih jauh dari kesempurnaan, tapi sebenarnya pelajaran besar sedang dijalaninya. Berikanlah ruang yang cukup kepadanya, sehingga anak mempunyai kesempatan untuk mengasah kemandiriannya. Beberapa hal yang harus dilakukan orang tua untuk mendukung keberhasilan pembentukan kemandirian anak adalah :
- Tunjukkan keterampilannya. Berilah banyak kesempatan kepada anak untuk menunjukkan keterampilannya dan berilah komentar positif betapa menyenangkan menjadi anak terampil. ”Wah, Mama lihat kamu membereskan tempat tidur. Pasti kamu senang sekali, kamarmu terlihat rapi dan nyaman!”
- Izinkan anak melakukan berbagai hal sendiri. Meskipun belum sempurna dan membutuhkan waktu lebih lama, biarkan anak melakukan berbagai hal sendiri sesuai dengan kemampuan dan umurnya.
- Izinkan anak Anda membuat pilihan. Tawarkan pilihan-pilihan sederhana kepada anak seperti, ”Hari ini kamu memilih memakai baju merah atau kuning?”. Dengan belajar menentukan sebuah pilihan, maka anak akan terbiasa mandiri membuat keputusan. Jika orangtua terbiasa memutuskan semua hal tanpa melibatkan anak, maka anak cenderung mengalami ketergantungan pada orang lain dan tidak berani mengambil keputusan pada semua hal.
- Pastikan lingkungan sekitarnya aman. Biarkan anak melakukan eksplorasi seluas-luasnya, tetapi pastikan keamanannya. Saat anak ikut membantu Anda memasak di dapur, pastikan anda menyimpan benda-benda tajam seperti pisau atau parutan, di tempat yang aman dan tidak terjangkau anak.
- Bagilah tugas-tugas kecil. Jika anak memaksa untuk mandi sendiri, berilah kesempatan, meskipun sebenarnya dia belum bisa mandi dengan bersih. ”Mandinya yang bersih ya, Dik! Nanti kalau sudah selesai, Mama periksa ya.. Supaya semua busa sabun dan samponya tidak ada yang tertinggal!” Anak pasti merasa senang diberi kesempatan sendiri, dan jangan lupa gunakan kesempatan anda saat memeriksa. untuk menggosok ulang badannya dan memastikan mandinya sudah bersih.
- Berikan pujian. “Wah, adik pintar makan sendiri. Nasi, sayur, dan ikan semua habis!”, tunjukkan kebanggaan Anda padanya, dengan memuji proses makan sendirinya. Tidak masalah jika remah makanan masih tercecer di lantai. Itu bisa diselesaikan dalam pelajaran berikutnya.
- Jangan remehkan kegagalannya. Seandainya dia memaksa mengambil baju sendiri, dan ternyata dia meruntuhkan susunan baju di lemarinya, jangan meremehkannya dengan mengucap, ”Sudah Mama bilang, jangan ambil baju sendir! Lihat, jadi berantakan kan!” Lebih baik ajarkan cara yang benar mengambil baju dari lemari dengan benar. Hargailah usaha anak sebagai proses pembelajaran.
Setiap pelajaran, pasti membutuhkan proses. Hargailah usaha anak untuk melakukan semua hal sendiri dengan memberi kesempatan padanya untuk mencoba karena ”Alah Bisa Karena Biasa”.