Mempunyai anak yang hobi memukul teman memang bikin makan hati. Rasa malu harus ditahan, setiap kali mendapat laporan dari orangtua korban pemukulan. Kenapa kamu begitu mudah memukul teman, Nak?Pada hari pertama mengantar anaknya, Abil (5 tahun), di sekolah baru, Reta terpaksa menahan malu kepada guru dan pengantar yang lain. Selama dua jam di sekolah, sudah tiga anak menangis kesakitan karena mendapat pukulan Abil. Pertama karena Abil ingin menyerobot antrian perosotan, kedua karena merebut mainan yang dipegang teman, dan yang ketiga karena dia menginginkan snack bekal temannya. Sepanjang perjalanan menuju sekolah, Reta menyampaikan petuah dengan panjang lebar supaya Abil bersikap baik kepada temannya. Bahkan dia menjanjikan hadiah, bila Abil menepati janjinya untuk tidak memukul teman. Namun janji tinggal janji. Dengan menahan rasa malu, Reta meminta maaf kepada para orangtua ”korban” pukulan anaknya. Reta benar-benar kehabisan akal menghadapi anaknya yang senang memukul teman.
Anak Agresif
Hampir semua anak kecil pada suatu saat memilih berperilaku agresif karena beberapa alasan. Mereka bisa bertindak agresif dengan menyerang, memukul, atau mencakar orang lain untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkannya atau karena merasa terganggu keamanan, kesenangan, maupun kenyamanannya. Menurut Dr. John Pearce, dalam Fighting, Teasing, and Bullying, tindakan agresif terjalin erat dengan rasa marah, yang terjadi saat anak tidak memperoleh apa yang diinginkannya. Emosi marah juga berkembang saat anak merasa ada ancaman bahwa ia tidak akan memperoleh apa yang dikehendakinya. Rasa marah bisa juga bergabung dengan suasana hati lain untuk membentuk emosi yang lebih rumit seperti: kecemasan, kemarahan, kebencian, ketakutan, penderitaan, ketidakberdayaan, dan frustasi. Anak yang bertindak agresif secara berlebihan dan terus menerus, cenderung bersifat impulsif, mudah marah, tidak matang, sulit mengungkapkan perasaan, dan action-oriented.
Menghadapi ”Si Sumbu Pendek”
Anak agresif sangat mudah tersulut emosinya. Untuk menghadapi anak yang ”bersumbu pendek” tersebut, diperlukan pendampingan yang terus menerus supaya anak belajar untuk mengendalikan emosinya. Gail Reichlin dan Caroline Winkler dalam The Pocket Parent menawarkan sebuah solusi cepat menghadapi anak saat melakukan pemukulan di tempat kejadian perkara :
- Hentikan segera perilakunya. Lakukan dengan tegas tapi tetap lembut, peganglah tangan korban dan penyerang masing-masing disisi anda. Carilah tempat yang nyaman untuk berbicara dengan mereka.
- Lakukan pengamatan kilat untuk menebak apa yang terjadi. Tahan emosi dan sampaikan bahwa Anda ingin mendengar apa yang terjadi. Beri kesempatan masing-masing anak mengungkapkan perasaan dan pembelaan dirinya, serta jadilah pendengar yang baik. Menginterogasi mereka dengan amarah tidak akan menghasilkan apa-apa.
- Kenalilah perasaan yang membuat mereka melakukan penyerangan, dan tunjukkan aturan yang telah dilanggar. ”Aku tahu kamu kesal karena adik tidak mau berbagi, tapi memukulnya bukanlah jalan keluar yang baik.”
- Pulihkan kedamaian dengan mengarahkan kedua anak untuk segera menyelesaikan masalah diantara keduanya, saling bermaafan, dan kembali bermain bersama lagi.
Perbaikan Perilaku
Erry Soekresno, Psi., psikolog dan pengelola Sekolah Kebon Maen, menyatakan bahwa orangtua dan lingkungan bertanggung jawab untuk melakukan perbaikan perilaku pada anak yang agresif. Kebiasaan anak suka memukul dan menyerang orang lain tidak boleh dibiarkan karena jika dibiarkan berlarut-larut hingga dewasa, akan sangat berbahaya. Pukulan yang dilontarkan anak usia 5 tahun mungkin tidak terlalu menyakitkan, namun jika itu dilakukan anak usia 17 tahun, maka sangat berbahaya bagi orang lain dan bagi kepribadiannya sendiri. Upaya-upaya yang bisa dilakukan untuk perbaikan perilaku anak adalah :
- Antisipasi pada situasi. Jika tahu bahwa anak kita mempunyai kebiasaan memukul teman, maka langkah awalnya adalah dengan ”menjaganya”. Sehingga saat melihat gelagat dia hendak memukul orang lain, segera saja kita ingatkan atau kita tangkap tangannya sebelum ada korban tersakiti.
- Ajarkan empati. Bicaralah pada anak, ”Menurut kamu, dipukul itu sakit nggak?” atau ”Apakah kamu mau dipukul orang lain?” Berikan pertanyaan yang membuat dia berpikir, ”Ternyata dipukul itu sakit, lho!” Dengan demikian anak akan belajar mengendalikan diri supaya tidak menyakiti orang lain.
- Tunjukkan kelakuan buruknya. Katakan, ”Aku kecewa kamu memukul teman!” atau ”Selesaikan masalahmu dengan bicara, bukan dengan menggunakan tangan!”. Sampaikan padanya bahwa tidak ada alasan yang benar untuk menyelesaikan masalah dengan menyerang, memukul, menendang, dan menyakiti teman.
- Berikan konsekuensi. Jika anak berulang kali memukul teman, berikan dia konsekuensi dengan mengurangi kesenangannya. ”Maaf, sepertinya teman-teman terganggu dengan sikapmu yang senang merebut dan memukul. Untuk sementara waktu kamu akan kehilangan kesempatan bermain dengan teman di luar rumah sampai kamu bisa menunjukkan sikap baikmu!” Bagi anak, kehilangan kesempatan bermain bersama teman merupakan kehilangan sesuatu yang berharga. Dengan konsekuensi ini, diharapkan anak mau berubah sikap supaya lebih bisa mengendalikan diri.
- Berikan pujian saat mengalami kemajuan. Berikan penghargaan pada sekecil apapun kemajuan yang dia lakukan dalam mengendalikan diri dari menyerang teman. ”Wah, kamu hebat. Mama senang melihat kamu tidak berebut dan mau bersabar menunggu giliran bermain ayunan.”
- Jauhkan anak dari bacaan dan program televisi yang mengajarkan kekerasan. Karena informasi negatif yang mereka terima secara terus menerus akan mengendap dalam bawah sadar anak dan membentuk sebuah kesimpulan bahwa kekerasan itu hal yang biasa dan dapat diterima.
Sebongkah batu jika ditetesi air selama bertahun-tahun, niscaya akan berlubang. Demikian juga dengan manusia, upaya perbaikan perilaku pada anak yang suka memukul pasti akan membawa hasil pada perubahan yang positif, selama kita melakukannya dengan penuh keyakinan, kesabaran, dan konsisten.