Cetak Artikel Ini  
As They Grow - 5-6 Years
Diam Bukan Selalu Emas

Di rumah, gayanya bak presenter bola yang bicara tiada henti. Tapi di sekolah, mengapa mulutnya terkunci rapat, diam seribu bahasa?

 Hari ini Hana mengambil rapot anaknya, Nora (6 tahun). Pertanyaan standar orang tua saat mengambil rapot pun dia ajukan, ”Apakah Nora ada masalah di sekolah, Bu?” Dan Hana terkejut dengan jawaban guru Nora, ”Secara akademik, Nora tidak ada masalah. Tapi, Nora sangat pendiam di kelas. Jarang sekali saya mendengar suaranya. Kalau ditanya, Nora hanya mengangguk atau menggelengkan kepala. Saat diminta bicara, suaranya hampir tak terdengar.” Hana terkejut mendengan penjelasan guru anaknya. Padahal di rumah, Nora banyak sekali bicara bahkan boleh dibilang ceriwis. Saat bermain dengan adiknya, dia selalu menjadi pemimpin yang mengatur jalannya permainan. Suaranya pun lantang terdengar. Dia heran mengapa anaknya bisa berubah 1800 saat di sekolah. Kemana ”hilangnya” suara Nora?

Mutisme Selektif
Orangtua sering dikejutkan dengan perilaku anak yang berubah-ubah. Gejala yang ditunjukkan Nora yang mengunci mulutnya dengan rapat di sekolah, sementara di rumah dia bisa berekspresi dengan suara lepas, serta tidak mempunyai hambatan komunikasi, diduga psikolog sebagai mutisme selektif atau kebisuan selektif. Banyak hal yang bisa menyebabkan anak mogok bicara. Rasa tidak nyaman, takut bertemu dengan orang baru, bisa membuat anak menjadi diam seribu bahasa di sekolah.

Menurut Ricki Lau, dalam The Older Chikd and Teen with Selective Mutism, mutisme selektif merupakan manifestasi dari kegelisahan sosial. Mereka merasa seolah berada di tengah panggung dan dilihat ribuan mata yang siap memberi komentar. Mereka takut dipermalukan, dihakimi, dikritik dan diperhatikan secara seksama oleh orang lain. Anak yang mengalami mutisme selektif masih bisa memberikan respon pada orang lain, namun tidak mempunyai inisiatif. Mereka enggan berkomunikasi secara verbal, dan lebih senang menggunakan tulisan maupun bahasa tubuh, seperti menggeleng, mengangguk, menunjuk, atau mengangkat bahu.

Diam Tak Berarti Emas
Pepatah ”Diam itu adalah emas” tidak berlaku untuk anak yang mengalami mutisme selektif. Jika perilakunya dibiarkan, bisa berakibat anak semakin tenggelam dalam kebisuannya, performa akademiknya menurun, tidak mempunyai teman, yang tentu sangat mengganggu dalam perkembangan sosial anak. Ketidaktahuan informasi orang-orang di sekitar mengenai mutisme selektif, membuat mereka menganggap bahwa perilaku tersebut hanyalah pendiam biasa saja. Padahal anak yang mengalami mutisme selektif memerlukan bantuan orang-orang di sekitarnya, baik guru, orang tua, dan yang lain.

Dr. Elisa Shipon-Blum,  President and Director of the Selective Mutism Anxiety Research and Treatment Center (SMart Center), menyarankan perlunya penanganan kepada anak yang mengalami mutisme selektif dengan tujuan untuk menurunkan kecemasan, menumbuhkan harga diri, meningkatkan kepercayaan saat bersosialisasi dan berkomunikasi. Penanganan bisa dilakukan sendiri atau bekerjasama dengan psikolog dengan melihat tingkat ”kebisuan”-nya, dengan cara :
  • Terapi perilaku. Rangsanglah anak untuk berbicara namun jangan dengan pemaksaan. Bawalah anak ke perkumpulan keluarga, atau acara ulang tahun. Ajarilah dia untuk memperkenalkan diri. Jangan jadikan mutisme selektif sebagai alasan untuk tidak mengajaknya, “Ah, kamu nggak usah ikut saja! Percuma, di sana kamu pasti nggak mau bicara. Malu-maluin, saja !” Jika itu Anda lakukan, maka anak akan semakin tenggelam dalam kebisuannya.
  • Terapi bermain dan psikoterapi. Jangan jadikan sesi latihan bicara menjadi kegiatan formal. ”Ayo, sekarang kamu bicara. Mulai dari, perkenalkan dirimu!” Perintah tersebut membuat anak semakin takut untuk bicara. Lakukan latihan dengan bermain dan bercakap-cakaplah selama permainan.
  • Cognitif Behavioral Therapy (CBT). Terapi ini diberikan untuk membangun kepercayaan diri anak. Penderita selektif mutisme sering merasa khawatir suaranya didengar orang lain, takut ditanya  mengapa dia tidak bicara, dan dipaksa untuk bicara.
  • Membangun harga diri anak. Orangtua harus cermat melihat potensi anak yang bisa diunggulkan. Jika anak senang menggambar, siapkan area untuk memasang hasil karya anak. Bekerjasamalah dengan keluarga yang lain untuk memberi pertanyaan kepada anak tentang karyanya. Dengan berbicara mengenai karyanya, maka anak berlatih keterampilan berbicara dan juga kepercayaan dirinya.
  • Interaksi sosial. Anak mogok bicara di sekolah karena tidak merasa nyaman dengan lingkungan sekolah. Rencanakan untuk mengundang beberapa teman sekelas untuk bermain di rumah. Ciptakan aktivitas yang menarik dan biarkan mereka saling berinteraksi. Jika mereka sudah lebih mengenal, maka di kelas pun anak akan merasa lebih nyaman.
  • Keterlibatan sekolah. Informasikan kondisi anak kepada pihak sekolah supaya mereka tidak menganggap bahwa ’kebisuan’ anak bukan berarti keras kepala atau menantang guru. Tunjukkan usaha yang Anda lakukan di rumah, dan mintalah bantuan guru untuk membantu dengan selalu merangsangnya bicara.
  • Keterlibatan keluarga. Semua upaya penanganan mutisme selektif harus didukung oleh anggota keluarga. Dukungan dari semua keluarga sangat diperlukan demi keberhasilan penanganan.
Anak yang mengalami mutisme selektif bukanlah anak yang bisu permanen, jadi bisa disembuhkan. Berikan penanganan dengan konsisten dan penuh kesabaran untuk membantunya mengembalikan suaranya yang ”hilang”.

Disclaimers:
Opinion expressed by author and advertisers are not necessarily those of the editor and publisher. While every case has been taken in the compilation of materials in this site, Nasyith Majidi, the editor and publisher of this site accepts no responsibility for any errors or omissions therein. Readers are advised to consult their medical practitioners for advice on any health and parenting problems.

 
Edisi September 2010
 
PILIH EDISI
-  
 
X-Poll
poll
Apa kendala terberat Anda menjelang lebaran tahun ini?
 Asisten Rumah Tangga pulang kampung
 Biaya mudik membengkak
 Pekerjaan kantor menumpuk
 Liburan yang pendek

Lihat Hasil
Vote