Cetak Artikel Ini  
As They Grow - 7-9 Years
Kok, di Sekolah Lebih Mandiri?

Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Lain rumah lain sekolah, kenapa di rumah hilang sikap mandirinya?

Saat menerima rapot yang berisi laporan perkembangan anaknya, Lina bergumam dalam hati, ”Apa Bu Guru tidak salah memberi nilai? Bagaimana mungkin, Dila (8 tahun) mendapat poin A, dalam sikap kemandirian? Padahal di rumah, Dila sama sekali tidak pernah menunjukkan sikap mandiri. Dari urusan mandi, ganti baju, sampai dengan mengatur buku ke sekolah, semua disiapkan oleh Mbak Yati, pengasuhnya. Saat makanpun, maunya selalu disuapi. Jangan-jangan, yang dituliskan Bu Guru di rapot Dila hanya nilai ”tembakan”, untuk menyenangkan hati orangtua saja.

Di Rumah Kembali Manja
Demi memuaskan rasa penasarannya, Lina bertanya pada Bu Guru, ”Apakah Ibu tidak salah memberi nilai?”. Dengan terkejut Bu Guru bertanya, ”Maksud Ibu?”. Lina pun melanjutkan, ”Saya lihat Ibu memberi nilai A pada kemandirian Dila. Padahal di rumah, apa-apa selalu minta dilayani, Bu!” Melihat Lina yang terlihat menyangsikan kemandirian anaknya, Bu Guru kemudian mengambil sebuah kartu warna biru bertuliskan nama Dila,  ”Ibu bisa lihat perkembangan Dila pada kartu kemandirian harian ini.” Lina kemudian melihat deretan bintang yang menghiasi kolom-kolom yang menunjukkan kemandirian Dila seperti melepas dan memakai sepatu sendiri, meletakkan sepatu, tas, dan buku pada tempatnya, membuang sampah pada tempatnya, makan sendiri, meletakkan piring bekas di tempatnya, membersihkan meja setelah makan dan lain sebagainya. Melihat kartu bintang anaknya, Lina jadi heran, karena ternyata di sekolah Dila cukup mandiri. Tapi kenapa saat di rumah kembali manja bak putri raja?

Pola Kebiasaan
Anda mengalami hal yang sama dengan Lina? Apa yang sudah dilakukan guru, sehingga anak kita sepertinya lebih menuruti apa kata guru daripada omongan orangtua? Haruskah kita merasa cemburu atau malah berterimakasih?

Masalahnya sekarang adalah kenapa saat di rumah, sikap mandirinya hilang dan kembali manja. Jangan-jangan, dia berada dalam tekanan guru saat melakukannya. Daripada diliputi rasa penasaran, lebih baik carilah informasi mengenai apa saja yang dia lakukan bersama teman dan gurunya selama di sekolah. Bersyukurlah, jika anak Anda berada di lingkungan sekolah yang membentuknya menjadi anak mandiri. Maka anda Anda berada dalam sebuah sistem yang membentuk sebuah pola kebiasaan. Biasanya sistem tersebut tertulis dalam sebuah aturan kelas dimana semua anak mendapat perlakuan yang sama tanpa terkecuali. Misalnya, saat datang ke sekolah, anak menyimpan sepatu, tas, dan perlengkapan sekolahnya sendiri. Selain itu, anak-anak dibiasakan menghabiskan makan sendiri, membereskan bekas makannya, membuang sampah pada tempatnya, serta tugas-tugas pribadi yang lain. Pada awalnya, anak mungkin terasa berat melakukannya. Namun karena sistem dan perlakuan guru  yang diberikan pada setiap anak adalah sama, maka terbentuklah sebuah pola kebiasaan. Itulah rahasia mengapa anak-anak terlihat mandiri di sekolah.

Perbedaan Iklim
”Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya.” Lain sekolah lain rumah, tentu lain aturannya. Aturan dan perlakuan yang berbeda membuat anak mencari kondisi yang paling nyaman untuknya. Menurut Ratna Megawangi, Ph.D, Direktur Indonesia Heritage Foundation, dalam membangun kemandirian anak dan juga karakter positif yang lain, dibutuhkan strategi yang melibatkan peran serta orangtua dan guru. Karena menumbuhkan sikap kemandirian anak bukanlah tugas guru semata, tapi juga kewajiban orangtua dalam mendidik anak.

Sistem di sekolah membuat anak malu jika tidak bisa melaksanakan tugasnya sendiri. Perlakuan dan apresiasi yang diberikan guru kepada semua murid secara sama, juga membuatnya lebih percaya diri saat melakukan tugas-tugas pribadinya. Lalu bagaimana saat di rumah ? Apakah iklimnya sama dengan di sekolah atau ada tokoh yang selalu siaga menjadi dewa penolong? Tokoh itu bisa saja pengasuh, nenek, ayah, ataupun ibu, yang selalu siap mengambil alih tugas seorang anak. Jika terdapat perbedaan iklim antara rumah dan sekolah, anak menjadi tidak konsisten dalam bersikap. Dia akan menyesuaikan dengan lingkungan sekitar dan mencari posisi yang paling nyaman untuknya. Saat di sekolah dia menjadi anak mandiri karena sistem yang berlaku menuntut setiap anak harus mandiri tanpa terkecuali. Sedangkan di rumah, hanya dengan rengekan kecil atau sedikit merajuk dia bisa terhindar dari tugas pribadinya dan mendapatkan pelayanan dari orang lain. Jadi kenapa harus repot-repot mengerjakan sendiri?

Seiring Sejalan
Kemandirian saat makan, mandi, memakai baju, mengancingkan baju, menyiapkan buku untuk sekolah, maupun meletakkan barang di tempatnya adalah keterampilan hidup yang seharusnya dikuasai oleh anak usia 8 tahun. Jika anak Anda pada usia tersebut belum menguasainya, maka waspadalah! Berarti anak Anda mengalami perkembangan yang tidak sesuai dengan usianya Lalu bagaimana supaya anak tetap mandiri, seiring sejalan, baik di sekolah maupun di rumah? Berikut tips yang layak Anda coba :
  • Bekerjasama dengan guru di sekolah. Tidak ada salahnya, Anda mencari tahu bagaimana guru membiasakan sikap mandiri anak di sekolah. Berbagi pengalaman bisa menjadi masukan berharga dalam menangani anak.
  • Ajarkan tanggung jawab pribadi sesuai dengan usia. Mulailah sejak dini mengajarkan hal yang paling sederhana dan berhubungan dengan diri sendiri, seperti belajar makan sendiri, mandi, menyisir rambut, mengancingkan baju, atau memakai sepatu. 
  • Tunjukkan bahwa Anda juga orangtua mandiri. Berhati-hatilah dalam bersikap karena anak akan mencontoh apa yang Anda perbuat. Jika Anda selalu minta dilayani pembantu, bahkan untuk urusan sederhana seperti mengambil minuman saja, maka anakpun akan meniru perilaku Anda.
  • Berikan apresiasi. Saat anak menunjukkan kemajuan dalam kemandiriannya, janganlah lupa untuk memberikan apresiasi dengan memberikan pujian tulus sehingga anak merasa usahanya dihargai.
  • Konsisten! Hal paling berat untuk dilakukan oleh orang tua adalah konsisten. Terkadang, orangtua merasa risih dengan rengekan dan tangisan anak manja, sehingga menuruti keinginan sang anak. Inkonsistensi inilah yang menghambat tumbuhnya kemandirian anak.
Rasa sayang yang besar kepada anak bukan berarti harus ditunjukkan dengan melayani dan menuruti semua keinginannya. Tanamkan sikap kemandirian sejak dini kepada anak sesuai dengan perkembangan usianya sebagai bekal mereka di masa depan, untuk menjadii pribadi yang tangguh dan bertanggung jawab.

Disclaimers:
Opinion expressed by author and advertisers are not necessarily those of the editor and publisher. While every case has been taken in the compilation of materials in this site, Nasyith Majidi, the editor and publisher of this site accepts no responsibility for any errors or omissions therein. Readers are advised to consult their medical practitioners for advice on any health and parenting problems.

 
Edisi September 2010
 
PILIH EDISI
-  
 
X-Poll
poll
Apa kendala terberat Anda menjelang lebaran tahun ini?
 Asisten Rumah Tangga pulang kampung
 Biaya mudik membengkak
 Pekerjaan kantor menumpuk
 Liburan yang pendek

Lihat Hasil
Vote