Cetak Artikel Ini  
Ask The Expert - Rostiana D. Nurdjajadi, M.Si, Psi.
Dr. Rose Mini | Dr. Utami Roesli | Tika Bisono | Dr. Hindra Irawan Satari, Sp.A(K), | Aidil Akbar Madjid, RFC | Rostiana D. Nurdjajadi, M.Si, Psi. |Dr Irsan Hanafi, Sp.OG | Dr Melanie Sadono, Drg, M. Biomed
Q & A SEX & MARRIAGE  
Rostiana D. Nurdjajadi, M.Si, Psi.
 
Si Adik Berbeda Dengan Si Kakak
Ibu Rose yang terhormat, Anak saya usianya 8 tahun tidak berprestasi di sekolah. Sangat berbeda dengan kakaknya yang saat ini berusia 10 tahun. Sejak dulu kakaknya selalu jadi anak penurut dan pandai sehingga di sekolah selalu masuk rangking 3 besar. Sedangkan Rico, adiknya beda. Nilai matematikanya saja selalu merah. Padahal saya sudah masukan dia ke tempat les matematika terkenal. Sehari-hari dia hanya senang bermain permainan olah fisik saja, seperti main bola kaki atau bola basket. Bu, apa yang harus saya lakukan untuk membuat anak saya sadar tentang pentingnya belajar dan berprestasi di sekolah?

Mala, Riau


Ibu Mala yang berbahagia,
Alangkah senangnya dianugerahi dua buah hati yang sehat. Apalagi, bila setiap anak memiliki keunikan dan keunggulan masing-masing. Bila merujuk pada teori kecerdasan majemuk, setiap anak berbeda dalam hal kemampuan yang menonjol. Misalnya, si A sangat baik dalam Matematika dan Bahasa, sedangkan si B lebih menonjol dalam hal kelenturan tubuh dan kemampuan berinteraksi dengan orang lain. Pada anak Ibu, terdapat kemungkinan bahwa adik lebih menonjol pada kecerdasan gerak tubuh (bodily-kinesthetic) sehingga ia lebih senang dan mahir melakukan kegiatan yang bersifat fisik.

Sedangkan pada kakak, mungkin lebih dominan pada aspek kecerdasan lainnya sehingga dapat terlihat lebih berprestasi di sekolah. Jadi, memang kedua anak Ibu tidak dapat diperbandingkan berdasarkan satu aspek kecerdasan saja.

Sifat kakak yang cenderung penurut tentunya akan membuat Ibu lebih mudah untuk membimbingnya belajar. Meski demikian, bukan berarti tidak ada cara untuk dapat mengajak adik untuk lebih rajin belajar. Pada dasarnya, setiap anak memiliki gaya belajar yang berbeda. Ada anak yang memiliki gaya belajar auditiori (melalui pendengaran), visual (melalui penglihatan), atau kinestetik (melalui gerak tubuh). Hal ini dapat menjadi salah satu penyebab mengapa adik tidak dapat diperlakukan sama dengan kakak dalam hal belajar. Pada adik, mungkin akan lebih efektif bila kegiatan belajar dilakukan dengan gaya kinestetik. Misalnya, mengajarkan Matematika melalui proses menghitung perolehan angka dalam permainan bola kaki dan bola basket.

Ada baiknya Ibu mengubah sudut pandang Ibu terhadap prestasi anak Ibu. Nilai akhir memang sering kali menjadi patokan dari prestasi seorang anak, namun kita juga perlu lebih memperhatikan proses belajar anak dan keunggulan yang dimiliki. Cobalah untuk membuat adik tidak merasa takut untuk belajar. Ciptakan suasana yang menyenangkan dan ikuti gaya belajar yang cocok untuk adik agar adik tidak merasa belajar sebagai sebuah beban. Saya yakin usaha Ibu ini merupakan bentuk kasih sayang terbaik dari Ibu untuk anak-anak.

 1  |  2  |  3  |  4  |  5  |  6  |  7  |  8  |  9  |  10  | »    
BACA JUGA



Disclaimers:
Opinion expressed by author and advertisers are not necessarily those of the editor and publisher. While every case has been taken in the compilation of materials in this site, Nasyith Majidi, the editor and publisher of this site accepts no responsibility for any errors or omissions therein. Readers are advised to consult their medical practitioners for advice on any health and parenting problems.
 
 
Edisi September 2010
 
PILIH EDISI
-  
 
X-Poll
poll
Apa kendala terberat Anda menjelang lebaran tahun ini?
 Asisten Rumah Tangga pulang kampung
 Biaya mudik membengkak
 Pekerjaan kantor menumpuk
 Liburan yang pendek

Lihat Hasil
Vote