Cetak Artikel Ini  
As They Grow - 10-13 Years
Please Ma, Aku kan Sudah Besar!

Kuncinya, perlakukanlah selalu anak remaja seperti orang dewasa, tetapi mengertilah jika ia berperilaku seperti kanak-kanak (Steve Chalke)

Mala cukup terkejut saat mengetahui anaknya yang masih kelas 6 SD, Tiara (12 tahun), mendapatkan menstruasi pertama. Meski pada awalnya Tiara merasa tidak nyaman, namun lama kelamaan dia menjadi terbiasa. Apalagi, ternyata dia tidak sendirian karena ada teman sekelasnya yang juga mendapatkannya. Mala merasa tidak ada yang perlu berubah dengan adanya kejadian tersebut. Seperti biasa dia menyiapkan baju seragam, bekal, dan mengatur buku anaknya. Namun, saat dia hendak menyisir rambut Tiara, dia menolak sambil uring-uringan, ”Please deh Ma, Aku kan sudah besar!”

”Aku Sudah Besar”
Memasuki usia praremaja, terjadi ketidakmapanan emosional pada anak, yang disebabkan adanya perubahan-perubahan fisik, seperti bentuk badan, suara, dan tumbuhnya bulu-bulu, maupun perubahan hormonal seperti datangnya haid pada anak perempuan, dan mimpi basah pada anak lelaki.

Menurut  Raeny Damayanti, Psi., psikolog Bumblebee Child Development Center, Bandung, praremaja juga mengalami peningkatan tuntutan dari lingkungan, baik keluarga, teman-teman di rumah, maupun di sekolah. Misalnya, ”Kamu sekarang sudah besar, seharusnya Kamu sudah bisa berpikir matang!” atau ”Kamu sekarang sudah besar, seharusnya sudah bisa mengerjakan semua sendiri!” atau ”Kamu  sudah bisa mengambil keputusan sendiri!” Banyaknya kata ”seharusnya” yang dia terima, di satu sisi membuat dirinya merasa senang karena dianggap sudah besar, tetapi di sisi lain dia juga merasa tertekan karena tuntutan lingkungan yang ”memaksanya” untuk segera menjadi dewasa.

Praremaja seolah ”terperangkap” dalam badan yang secara fisik masih kecil, tapi dituntut untuk berperilaku selayaknya ”orang besar”. Kondisi tersebut, membuat mereka seringkali berperilaku seperti anak kecil tapi ingin dianggap ”sudah besar.” Dalam kasus Tiara, dia masih mengandalkan ibunya untuk menyiapkan seragam, bekal, dan mengatur buku, tetapi dia tidak ingin lagi ibu menyisir rambutnya karena merasa ”sudah besar”. Dua hal yang bertentangan tersebut seringkali mewarnai hari-hari praremaja.

Jadilah Sahabatnya
Menghadapi praremaja tidaklah mudah. Selain emosinya kurang stabil, dimana mereka cenderung merasa selalu benar dan menyalahkan orang lain, merasa mampu melakukan segalanya, mereka juga sangat memperhatikan apa kata teman maupun kelompoknya dibandingkan dengan kata orangtua. Jadi, jika ingin menyelami hatinya, satu-satunya cara adalah menjadi sahabatnya. Bagaimana caranya?
  • Jalin komunikasi efektif. Biasakan mengobrol dan bertukar pikiran dengan anak sejak mereka kecil, sehingga anak sudah terbiasa dengan pola keterbukaan dalam berbicara dengan orangtua.
  • Jadilah pendengar yang baik. Seorang sahabat adalah pendengar yang baik. Jika Anda ingin diterima anak, maka dengarkanlah cerita dan keluh kesahnya.  Tahanlah untuk tidak memberikan komentar dahulu, sampai anak menyelesaikan curahan perasaannya.
  • Tanamkan nilai kejujuran, lewat ucapan maupun tingkah kita. Masa praremaja sangat memungkinkan, mereka lepas dari pengawasan orangtua sehari-hari. Bisa saja mereka berbohong karena takut dimarahi orangtua. Untuk menghindari hal tersebut maka biasakan keterbukaan dan kejujuran sejak dini.
  • No body’s perfect. Tak ada manusia yang sempurna. Saat mereka melakukan kesalahan, biarkan dia mengungkapkan semua alasannya, baru kemudian orangtua mengajak mereka berpikir. Bila mereka melakukan kesalahan dan mereka jujur atas kesalahan yang dilakukannya, maka mereka berhak mendapatkan konsekuensinya.
Kenalkan pada Tangggung Jawab
Masa peralihan dari anak-anak ke remaja yang biasanya ditandai dengan datangnya haid maupun mimpi basah, selalu diikuti dengan petuah-petuah orangtua yang intinya menyatakan bahwa anak ”sudah besar”,  disertai sederet tanggung jawab yang harus dia pikul. Tapi mungkinkah dia mampu memikulnya jika sebelum datang masa praremaja, orangtua tidak pernah mempersiapkannya? Supaya anak tidak merasa berat dan tertekan dengan kondisi barunya, sebaiknya orangtua mulai mempersiapkan anak untuk belajar bertanggung jawab sejak dini, dengan cara :
  • Mengajarkan kemandirian secara bertahap sesuai usia. Pelajaran kemandirian dimulai dari hal-hal yang sederhana, seperti makan, mandi, memakai baju, menyisir rambut, membereskan peralatan sendiri, dan lain sebagainya. Jika orangtua masih memanjakan praremaja dengan  mempersiapkan baju, buku, atau menyuapinya, maka merekalah yang membangun lubang besar di masa depan anak.
  • Berikan informasi secara positif. Dengan memberikan informasi mengenai peruabahan yang akan dialami praremaja secara jelas dan positif sejak dini, maka anak akan merasa siap menghadapi masa praremaja. Saat mereka mendapati tanda-tandanya seperti haid atau mimpi basah, mereka tidak akan merasa takut atau jijik. Mereka akan bisa menerima kejadian tersebut sebagai sesuatu yang normal dalam perkembangannya sebagai manusia.
  • Menanamkan pengertian akan pentingnya menjaga diri. Setelah mendapatkan informasi positif mengenai perubahan fisik dan hormonal saat memasuki masa praremaja, maka anak akan lebih menghargai diri sendiri dan bertanggung jawab untuk menjaganya. Baik menjaga kebersihan dan kesehatannya supaya tidak terkena penyakit, maupun menjaga dari sentuhan orang lain.
  • Menanamkan nilai-nilai spiritualitas. Seiring dengan usianya, orangtua hendaknya mengenalkan kewajiban-kewajiban secara agama yang harus dipenuhi seorang praremaja, sebagai bentuk tanggung jawab mereka kepada Sang Pencipta.
  • Character Building. Berikan contoh dalam perilaku sehari-hari mengenai nilai-nilai sabar, amanah, taat, sopan santun, empati, hemat, jujur, mandiri, dan lain sebagainya, karena anak selalu melihat dan  menirukan apa yang orang tua perbuat. Ajaklah mereka untuk berdiskusi mengenai peraturan, tata tertib, hak, dan kewajiban. Mereka akan mengenal berbagai etika berteman, bertamu, makan, dan lain sebagainya.
Mendidik praremaja sangatlah menantang. Kita harus bisa berdamai dengan ketidakstabilan emosi mereka dan berusaha menjadi sahabat baik bagi mereka. Kuncinya adalah komunikasi dan penanaman tanggung jawab sejak awal, sehingga mereka siap menyambut masa praremaja yang penuh warna.

Disclaimers:
Opinion expressed by author and advertisers are not necessarily those of the editor and publisher. While every case has been taken in the compilation of materials in this site, Nasyith Majidi, the editor and publisher of this site accepts no responsibility for any errors or omissions therein. Readers are advised to consult their medical practitioners for advice on any health and parenting problems.

 
Edisi September 2010
 
PILIH EDISI
-  
 
X-Poll
poll
Apa kendala terberat Anda menjelang lebaran tahun ini?
 Asisten Rumah Tangga pulang kampung
 Biaya mudik membengkak
 Pekerjaan kantor menumpuk
 Liburan yang pendek

Lihat Hasil
Vote